• SLIDER-1-TITLE-HERE

    Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com [...]

  • SLIDER-2-TITLE-HERE

    Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com [...]

  • SLIDER-3-TITLE-HERE

    Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com [...]

  • SLIDER-4-TITLE-HERE

    Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com [...]

Senin, 20 Juni 2011

fenomena alam

Posted by ciau on 22.58

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d7/Noctilucent_clouds_over_saimaa.jpg/450px-Noctilucent_clouds_over_saimaa.jpg

Awan Noctilucent adalah awan yang sangat tinggi secara atmosfir yang membiaskan cahaya pada senja ketika matahari telah tenggelam, mengiluminasi/menyinari langit dengan sumber cahaya yang tak tampak. ( en.wikipedia.org )
5. Aurora Borealis

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/07/Aurore_australe_-_Aurora_australis.jpg

Pada belahan dunia selatan juga dikenal dengan nama Aurora Australis, Aurora Borealis adalah partikel bermuatan listrik dari matahari yang telah mencapai bagian teratas atmosfir bumi dan menjadi sangat aktif. Aurora biasanya sering terlihat di daerah dekat kutub dan pada waktu dimana siang dan malam sama panjang. (en.wikipedia.org )

Selasa, 14 Juni 2011

Indonesia Dapat Julukan "Negeri Baby Smookers"

Posted by ciau on 21.36

Gara-gara ditemukannya sejumlah anak berusia dibawah 11 bulan yang sudah mengisap rokok, Indonesia kini dijuluki 'Negeri Baby Smooker' oleh kalangan aktivis anti rokok internasional. Julukan itu menunjukkan parahnya masalah yang dihadapi dalam menjauhkan anak-anak dari kebiasaan merokok.

Koordinator Forum Nasional Aliansi Total Ban Arist Merdeka Sirait menegaskan, masih banyak orang tua yang kurang peduli akan bahaya merokok. "Tahun lalu ada 12 kasus baby smokers yang kita temukan," ujarnya dalam pertemuan dengan jaringan forum itu di Denpasar.

Sebelumnya,Indonesia sudah dijuluki sebagai negara 'Kid Smookers' karena banyaknya anak-anak berusia 5-15 yang sudah terbiasa merokok. Jumlahnya mencapai 24,5 persen dari total populasi anak laki laki dan 2,3 persen pada anak perempuan Kebiasaan itu terbentuk terutama karena promosi iklan rokok yang sengat gencar menyasar usia tersebut. Perusahaan rokok membutuhkan mereka, karena perokok dari golongan dewasa cenderung bertahan pada satu merk saja.

Karena itulah, iklan rokok identik dengan gaya hidup remaja yang santai, macho dan penuh petualangan. "Seringkali juga dikaitkan dengan olahraga. Padahal bohong besar kalau ada atlit yang bisa berprestasi dengan merokok," tegasnya.

Pihaknya mengkampanyekan pembatasan iklan rokok juga dengan mengacu pada pasal 113 UU Kesehatan yang menyebut rokok sebagia zat adiktif sebagaimana narkotika. "Jadi tidak boleh ada iklan yang terbuka," tegasnya. Untuk di daerah, mereka minta membuat Perda yang mengatur Kawasan Bebas Rokok (KWR) dan mengurangi iklan rokok di billboard.

Sementara itu di Bali, Perda yang mengatur KWR masih tertahan di Kantor Gubernur Bali. Padahal, Dinas Kesehatan telah mengajukan draftnya sejak 7 bulan lalu. "Kami sudah melakukan desakan, tetapi pihak eksekutif masih meragukan, apakah masalah itu hak Pemprov atau kabupaten," kata Anggota Komisi IV DPRD Bali Utami Dwi Suryadi. Langkah yang dilakukan Gubernur saat ini hanya sebatas melarang merokok di lingkungan SKPD.
Diposkan oleh Ilham Septian di 1/25/2011 04:04:00 PM
Email This

Jumat, 10 Juni 2011

HUKUM MENCONTEK

Posted by ciau on 22.07

Hukum Mencontek

Mencontek itu berarti sama saja dengan berbohong. Ketika kita mencontek dan hasil dari contekan kita mendapat nilai yang baik, para guru dan orang tua memuji kita. Padahal kita tahu bahwa hasil itu kita dapatkan dengan jalan yang batil, yaitu mencontek. Coba pikir, nilai baik itu bukan berasal dari kemampuan kita, tetapi dari kreatifitas kita dalam mencontek, mencuri – curi dalam kesempitan. Apakah yang demikian ini, tidak bisa disebut berbohong atau menipu ? Padahal Rasulullah sudah memperingatkan kita akan bahayanya berbohong

Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran, karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan, dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersungguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong.” Muttafaq Alaihi.

Dari hadits di atas sudah dijelaskan bahwa berbohong memang berdampak buruk, khususnya di masa – masa yang akan dating. Bagaimana tidak sekali berbohong, maka seseorang akn menutupinya dengan kebohongan yang lain. Selain itu dari sebuah kebohongan kecil seperti menyonteklah lahir para koruptor – koruptor di negeri ini. Apa saudara ingin menjadikannya sebagai suri tauladan ?? Naudzubillahi min dzalik.

Selain itu menyontek sama saja mencuri. Mencuri kesempatan dalam kesempitan tepatnya, yang bermuara kepada kejelekan.

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka menipu, orang kikir, dan orang yang tidak bertanggungjawab terhadap apa yang dimilikinya.” Riwayat Tirmidzi. Ia menjadikannya dua hadits dan dalam sanadnya ada kelemahan.

Apa saudara ingin tidak masuk surga ? Saya yakin pasti tidak. Satu hal lagi yang penting adalah menyontek berarti sama saja melanggar aturan dari pemimpin kita, padahal islam mengajarkan kita untuk selalu mematuhi para pemimpin.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Dari Nabi saw. beliau bersabda: Barang siapa yang mentaatiku berarti ia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai perintahku, maka berarti ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang mematuhi pemimpin berarti ia telah mematuhiku dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku. (Shahih Muslim No.3417).

Kesimpulan

Jadi dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa menyontek hukumnya haram. Karena menyontek sama dengan mencuri, berbohong, menipu dan tidak mematuhi aturan pemimpin kita. Sekarang jika saudara bertanya bagaimana kalau kepepet atau tidak bisa ?. Maka jawaban adalah pasrah pada Allah dan terus berusaha serta berdo’a. tetpi jika saudara tetap memaksa, maka boleh saudara melakukannya asal saudara mencantumkan dalam lembar jawaban daftar pustaka dari jawaban orang yang saudara contek, hehhehe….. Jadi, tetap berpegang teguh pada kebenaran, maka Allah akan membimbing kita.

Kamis, 02 Juni 2011

perlukah identitas???

Posted by ciau on 01.49

Masih perlukah identitas di jaman yang mengglobal ?
In Renungan on Agustus 16, 2007 at 7:40 am


Teman saya meneliti tentang kelompok etnik China di Jepang yang menikah dengan orang Jepang. Kelompok yang dia teliti cukup unik karena berasal dari China minoritas (China mongolia), kelompok ini tinggal di Atsumi, Aichi prefecture. Menarik juga mendengarkan ceritanya mengenai perkawinan antarnegara dan peleburan budaya di antara generasi mudanya, dan dibarengi dengan upaya generasi tuanya untuk mempertahankan budaya leluhur.

Suatu kali teman saya menceritakan tentang keluhan temannya, laki-laki Jepang yang menikah dengan wanita Serbia. Wanita Serbia tampaknya tak bisa mengubah dan meleburkan diri dalam kehidupan Jepang yang sangat diharapkan suaminya. Sebaliknya, dia berkeinginan untuk kembali ke Serbia dan mendidik anak-anak mereka dengan cara Eropa. Sementara suaminya berkeras dia tinggal dan hidup dengan gaya Jepang.

Perkawinan antar negara adalah bentuk globalisasi yang sangat menarik, terutama ketika kita mencoba melihat peleburan budaya, pandangan, pola hidup orang-orang yang notabene bertolak belakang. Misalnya saja, laki-laki Jepang yang cenderung berfikiran bahwa tugas suami hanya bekerja, sementara pekerjaan rumah dan pengurusan anak adalah beban istri. Sementara di banyak negara Eropa dan mungkin Indonesia, pengasuhan anak menjadi tanggung jawab kedua pihak. Di Jepang, setelah menikah, anak cenderung hidup terpisah, dan orang tuanya pun tidak mau tinggal serumah dengan anak dan menantunya. Orang tua banyak yang lebih memilih hidup di panti jompo dengan alasan tak mau mengganggu privacy anak. Sementara di beberapa negara berkumpul dengan keluarga besar adalah yang terbaik karena bisa membagi tugas pengasuhan dan pemeliharaan anak.

Yang sangat dibutuhkan dalam era yang mengglobal adalah pengertian.

Saya dan teman-teman mahasiswa asing di lab, sering sekali menggunjingkan orang Jepang yang berpandangan aneh, dan membandingkan dengan kondisi masing-masing negara kami yang menurut kami adalah ebih baik. Ungkapan : nihon jin wa okashii ! (Orang Jepang itu aneh !) adalah kalimat yang paling sering kami pakai.

Dari sudut pandang orang Jepang, saya atau kami barangkali juga adalah orang-orang yang aneh. Misalnya teman-teman yang biasa melihat saya tiba-tiba membentangkan sajadah, kemudian melakukan gerakan aneh sambil komat-kamit, bagi mereka pun saya dianggap `okashii` (aneh). Seperti halnya saya yang tidak boleh minum sake, atau makan daging tak halal. Kebiasaan mengintip ingredient makanan sebelum memakannya, barangkali bagi mereka saya pun okashii !

Masing-masing kami mempertaruhkan identitas dan prinsip !

Ketika seseorang hidup di negeri B, maka haruskah dia menjadi orang B ? Ketika saya tinggal di Jepang, maka haruskah saya hidup mengikuti gaya, norma, perilaku orang Jepang ?

Menurut saya, identitas dan idealisme sangat perlu di jaman yang mulai dibawa ke arah mengglobal. Tak tahu saya apakah globalisasi proses alami atau proses yang dibuat agar terjadi secara alami :-(

Seorang teman bercerita diajak teman Jepang nomikai (minum2), karena dengan alasan menghormati si Jepang dia mencicipi sedikit sake. Sekali ini saja, katanya. Kadang-kadang, ada juga orang Jepang yang tak bisa menerima ketakbolehan yang harus kami pegang. Pernah di suatu acara home stay, host family saya memuji-muji orang Jepang yang fleksibel karena bisa mengikuti pola hidup bangsa-bangsa lain. Pergi ke Irian, mereka akan pakai koteka, pergi ke mongolia, mereka menggunakan baju mongol dan makan makanannya, pergi ke China mereka bisa menyantap semua makanan dari serangga yang sangat terkenal di sana. Diajak masuk ke gereja, mereka ikut. Diantar ke masjid, mereka juga akan ikut masuk. Bagi orang Jepang semuanya adalah budaya yang baru akan dipahami jika mengalaminya secara langsung.

Sekarang bagaimana menyiapkan anak didik agar siap menjadi warga bumi yang mengglobal ?
Setiap anak seharusnya dididik agar punya identitas. Agar dia memahami nilai-nilai yang diatur dalam agama yang dianutnya. Agar ketika dia bergaul dengan orang sedunia, dia masih bisa dikenali karena prinsip-prinsip yang dipegangnya. Agar jika dia berteman, dia punya pendirian yang kokoh.

Kelak di suatu masa, bangsa-bangsa mungkin akan hilang, kewarganegaraan hanya satu : WARGA NEGARA DUNIA. Ketika itu terjadi, maka yang bisa bertahan hanya nilai-nilai agama dan prinsip-prinsip kebenaran.

Banyak orang tua yang khawatir melepas anaknya bergaul dengan dunia yang luas, karena takut akan terpengaruh. Dunia sebenarnya hanya panggung mempengaruhi dan terpengaruh. Tinggalah bagaimana orang tua dan para guru mendidik agar anak-anak tersebut kelak menjadi pihak yang mempengaruhi dan bukan yang terpengaruh.

Sebaliknya banyak juga orang tua yang menginginkan anaknya agar bersekolah di luar negeri agar punya wawasan luas atau bisa berada di kelompok elit. Karenanya sejak kecil si anak dipaksa belajar bahasa Inggris. Padahal bukan bahasa yang penting ketika harus berhadapan dengan orang-orang dunia, tapi prinsip yang kuat.

Jika tak mau kembali menjadi terkaman negara-negara besar lagi maju, negara `besar` seperti Indonesia harus mampu membina identitas generasi mudanya, mengasah cara-cara berfikir yang khas agar dia tetap dikenali sebagai orang Indonesia ketika dia berbicara.

Sebagai muslim, saya tetap ingin dikenali sebagai muslim ketika saya bertindak, bersikap dan berbicara. Sungguhpun itu melawan arus global !

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Search Site

 
  • Blogroll

  • Consectetuer

  • Popular

  • Comments