Masih perlukah identitas di jaman yang mengglobal ?
In Renungan on Agustus 16, 2007 at 7:40 am
Teman saya meneliti tentang kelompok etnik China di Jepang yang menikah dengan orang Jepang. Kelompok yang dia teliti cukup unik karena berasal dari China minoritas (China mongolia), kelompok ini tinggal di Atsumi, Aichi prefecture. Menarik juga mendengarkan ceritanya mengenai perkawinan antarnegara dan peleburan budaya di antara generasi mudanya, dan dibarengi dengan upaya generasi tuanya untuk mempertahankan budaya leluhur.
Suatu kali teman saya menceritakan tentang keluhan temannya, laki-laki Jepang yang menikah dengan wanita Serbia. Wanita Serbia tampaknya tak bisa mengubah dan meleburkan diri dalam kehidupan Jepang yang sangat diharapkan suaminya. Sebaliknya, dia berkeinginan untuk kembali ke Serbia dan mendidik anak-anak mereka dengan cara Eropa. Sementara suaminya berkeras dia tinggal dan hidup dengan gaya Jepang.
Perkawinan antar negara adalah bentuk globalisasi yang sangat menarik, terutama ketika kita mencoba melihat peleburan budaya, pandangan, pola hidup orang-orang yang notabene bertolak belakang. Misalnya saja, laki-laki Jepang yang cenderung berfikiran bahwa tugas suami hanya bekerja, sementara pekerjaan rumah dan pengurusan anak adalah beban istri. Sementara di banyak negara Eropa dan mungkin Indonesia, pengasuhan anak menjadi tanggung jawab kedua pihak. Di Jepang, setelah menikah, anak cenderung hidup terpisah, dan orang tuanya pun tidak mau tinggal serumah dengan anak dan menantunya. Orang tua banyak yang lebih memilih hidup di panti jompo dengan alasan tak mau mengganggu privacy anak. Sementara di beberapa negara berkumpul dengan keluarga besar adalah yang terbaik karena bisa membagi tugas pengasuhan dan pemeliharaan anak.
Yang sangat dibutuhkan dalam era yang mengglobal adalah pengertian.
Saya dan teman-teman mahasiswa asing di lab, sering sekali menggunjingkan orang Jepang yang berpandangan aneh, dan membandingkan dengan kondisi masing-masing negara kami yang menurut kami adalah ebih baik. Ungkapan : nihon jin wa okashii ! (Orang Jepang itu aneh !) adalah kalimat yang paling sering kami pakai.
Dari sudut pandang orang Jepang, saya atau kami barangkali juga adalah orang-orang yang aneh. Misalnya teman-teman yang biasa melihat saya tiba-tiba membentangkan sajadah, kemudian melakukan gerakan aneh sambil komat-kamit, bagi mereka pun saya dianggap `okashii` (aneh). Seperti halnya saya yang tidak boleh minum sake, atau makan daging tak halal. Kebiasaan mengintip ingredient makanan sebelum memakannya, barangkali bagi mereka saya pun okashii !
Masing-masing kami mempertaruhkan identitas dan prinsip !
Ketika seseorang hidup di negeri B, maka haruskah dia menjadi orang B ? Ketika saya tinggal di Jepang, maka haruskah saya hidup mengikuti gaya, norma, perilaku orang Jepang ?
Menurut saya, identitas dan idealisme sangat perlu di jaman yang mulai dibawa ke arah mengglobal. Tak tahu saya apakah globalisasi proses alami atau proses yang dibuat agar terjadi secara alami :-(
Seorang teman bercerita diajak teman Jepang nomikai (minum2), karena dengan alasan menghormati si Jepang dia mencicipi sedikit sake. Sekali ini saja, katanya. Kadang-kadang, ada juga orang Jepang yang tak bisa menerima ketakbolehan yang harus kami pegang. Pernah di suatu acara home stay, host family saya memuji-muji orang Jepang yang fleksibel karena bisa mengikuti pola hidup bangsa-bangsa lain. Pergi ke Irian, mereka akan pakai koteka, pergi ke mongolia, mereka menggunakan baju mongol dan makan makanannya, pergi ke China mereka bisa menyantap semua makanan dari serangga yang sangat terkenal di sana. Diajak masuk ke gereja, mereka ikut. Diantar ke masjid, mereka juga akan ikut masuk. Bagi orang Jepang semuanya adalah budaya yang baru akan dipahami jika mengalaminya secara langsung.
Sekarang bagaimana menyiapkan anak didik agar siap menjadi warga bumi yang mengglobal ?
Setiap anak seharusnya dididik agar punya identitas. Agar dia memahami nilai-nilai yang diatur dalam agama yang dianutnya. Agar ketika dia bergaul dengan orang sedunia, dia masih bisa dikenali karena prinsip-prinsip yang dipegangnya. Agar jika dia berteman, dia punya pendirian yang kokoh.
Kelak di suatu masa, bangsa-bangsa mungkin akan hilang, kewarganegaraan hanya satu : WARGA NEGARA DUNIA. Ketika itu terjadi, maka yang bisa bertahan hanya nilai-nilai agama dan prinsip-prinsip kebenaran.
Banyak orang tua yang khawatir melepas anaknya bergaul dengan dunia yang luas, karena takut akan terpengaruh. Dunia sebenarnya hanya panggung mempengaruhi dan terpengaruh. Tinggalah bagaimana orang tua dan para guru mendidik agar anak-anak tersebut kelak menjadi pihak yang mempengaruhi dan bukan yang terpengaruh.
Sebaliknya banyak juga orang tua yang menginginkan anaknya agar bersekolah di luar negeri agar punya wawasan luas atau bisa berada di kelompok elit. Karenanya sejak kecil si anak dipaksa belajar bahasa Inggris. Padahal bukan bahasa yang penting ketika harus berhadapan dengan orang-orang dunia, tapi prinsip yang kuat.
Jika tak mau kembali menjadi terkaman negara-negara besar lagi maju, negara `besar` seperti Indonesia harus mampu membina identitas generasi mudanya, mengasah cara-cara berfikir yang khas agar dia tetap dikenali sebagai orang Indonesia ketika dia berbicara.
Sebagai muslim, saya tetap ingin dikenali sebagai muslim ketika saya bertindak, bersikap dan berbicara. Sungguhpun itu melawan arus global !
Kamis, 02 Juni 2011
perlukah identitas???
Posted by ciau on 01.49
Categories:













0 komentar:
Posting Komentar